Jumat, 01 September 2017

SYI’AR TAUHID DALAM IDHUL ADHA

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kepada kita nikmat yang begitu banyak. Di antara nikmat Allah yang paling agung adalah nikmat kita berada di atas Islam dan Iman, berada di atas tauhid dan dijauhkan dari kesyirikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah berjasa besar mengeluarkan manusia dari gelapnya syirik menuju cahaya tauhid yang terang benderang.
Sesungguhnya hari raya Idul Adha adalah hari yang sangat agung dalam agama kita. Bagaimana tidak, Idul Adha adalah syi’ar tauhid, syi’ar ke-esa-an Allah, kebesaran Allah dan keagungan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim benar-benar memperhatikan dan merenungkan pelajaran-pelajaran yang sangat agung yang terkandung dalam amalan-amalan di hari raya ini.

Kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam
Yang pertama, Idul Adha mengingatkan kita akan kisah-kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Tentang bagaimana ketundukan beliau kepada Allah, ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih anaknya yang sangat beliau sayangi yaitu Nabi Isma’il 'alaihissalam, beliau pun tunduk dan patuh melaksanakan perintah Allah Rabb-nya. Yang demikian itu adalah karena keimanan dan pengagungan beliau kepada Allah yang sangat besar, kuatnya keyakinan beliau kepada hikmah Allah, kuatnya tauhid beliau, sehingga membuat beliau benar-benar yakin bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, yang harus tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta.
Maka di antara bukti kuatnya keimanan dan tauhid beliau adalah apa yang beliau lakukan ketika berdakwah mengajak keluarga dan kaumnya untuk mentauhidkan Allah, untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan menjauhi segala macam kesyirikan. Beliau berkata mengingatkan bapaknya agar tidak beribadah kepada selain Allah yang sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa:
يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam [19]: 42)
Beliau terus mendakwahi bapaknya agar beribadah hanya kepada Allah saja, namun justru bapaknya mengancam beliau dengan ancaman yang keras, bapaknya berkata:
أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Apakah kamu benci kepada sesembahan-sesembahanku hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (QS. Maryam [19]: 46)
Meski demikian, Nabi Ibrahim 'alaihissalam tetap bersabar dalam berdakwah mengajak manusia kepada tauhid. Bahkan dengan tegas secara terang-terangan Nabi Ibrahim dan pengikut beliau berkata kepada kaumnya yang beribadah kepada selain Allah:
إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)
Demikianlah Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang senantiasa berdakwah kepada tauhid. Sungguh hari ini, hari Idul Adha ini mengingatkan kita kepada beliau, tentang ketundukan beliau kepada Allah sebagai orang-orang yang bertauhid.
Semarak Takbir
Kemudian yang kedua tentang syi’ar tauhid di hari raya Idul Adha ini, yaitu semarak takbir yang diucapkan oleh kaum muslimin yang bergema di seluruh penjuru negeri Islam. Pada hari-hari ini kita mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan bagi-Nyalah segala pujian.”
Maka pada takbir ini sangat nampak sekali pengagungan manusia kepada Allah, yang juga terkandung di dalamnya kalimat tauhid laa ilaaha illallaah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.
Ucapan Talbiyah
Yang ketiga yang termasuk syi’ar tauhid di hari Idul Adha adalah bahwasanya kaum muslimin di hari-hari ini sedang melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang mulia. Mereka pun mengucapkan kalimat talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada tandingan bagimu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada tandingan bagi-Mu.”
Maka orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, mereka berbalut kain putih yang seakan adalah kain kafan, mereka mengucapkan kalimat ketundukan kepada Allah dan menyatakan bahwa tidak ada tandingan bagi Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka jelas ini adalah syi’ar tauhid.
Bacaan Al-Fatihah Jahr
Kemudian yang keempat, yang merupakan syi’ar tauhid di hari raya Idul Adha ini adalah bahwasanya kaum muslimin di hari ini keluar dari rumah-rumah mereka di pagi hari, untuk menunaikan shalat Idul Adha, maka imam shalat pun membaca jahr (keras) dalam shalatnya, dan di antara ayat yang dibaca oleh sang Imam adalah ayat tentang tauhid, yang dapat didengar oleh orang-orang yang hadir:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan.” (QS. al-Fatihah [1]: 5)
Maka ini adalah ayat tentang tauhid yang senantiasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat-shalat mereka. Ayat yang berisi tentang tauhid, tentang ketundukan kepada Allah sepenuhnya dalam menghambakan diri dan beribadah kepada-Nya.
Ibadah Kurban
Kemudian yang kelima tentang syi’ar tauhid di dalam Idul Adha adalah ibadah kurban. Dimana pada hari ini kaum muslimin melaksanakan ibadah dengan menggunakan hartanya, ia rela dan ikhlas untuk diberikan kepada Allah dalam bentuk hewan kurban. Maka tak diragukan lagi bahwa ini adalah sebuah ketundukan kepada Allah yang menjadi bukti tauhidnya. Dimana orang yang berkurban mengikhlaskan niatnya beribadah hanya kepada Allah saja sebagai bentuk ketakwaan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]: 37)
Inilah syi’ar tauhid yang terdapat dalam hari raya Idul Adha, yang mengingatkan kita akan betapa pentingnya tauhid, maka hendaknya seorang muslim untuk selalu berpegang teguh dengan tauhid selama hidupnya, kapan dan dimanapun ia berada.
Karena tauhid adalah pondasi dasar bagi agama Islam ini, tauhid adalah asas dan pokoknya. Tauhid adalah lawan bagi syirik. Dengan tauhid inilah terbedakan antara orang muslim dengan orang kafir, antara mukmin dengan munafik, antara penduduk surga dan penduduk neraka. Bahkan tauhid adalah syarat mutlak seseorang bisa masuk ke dalam surga. Sedangkan kesyirikan adalah penyebab kekalnya manusia di dalam neraka.
Allah 'azza wa jalla berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Sesungguhnya barangsiapa berbuat kesyirikan, maka Allah mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. al-Maidah [5]: 72)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارِ
“Barangsiapa bertemu Allah (meninggal dunia) tanpa pernah berbuat kesyirikan sedikitpun maka ia masuk surga, dan barangsiapa bertemu Allah pernah berbuat kesyirikan maka ia masuk neraka.” (HR. Muslim 93)
Oleh karena itulah kaum muslimin harus mempelajari apa itu tauhid dengan sebenar-benarnya, agar bisa tetap berada di atasnya hingga ia meninggal dunia. Demikian pula kaum muslimin juga harus mempelajari apa itu syirik dengan berbagai macam jenisnya agar tidak terjatuh ke dalamnya. Sesungguhnya kesyirikan sangatlah berbahaya bagi seorang hamba, maka jangan sampai kita berbuat kesyirikan sedikitpun.
Meraih Kesuksesan Adalah dengan Tauhid
Bila kita telah berpegang teguh dengan tauhid dan menjauhi kesyirikan sejauh-jauhnya, maka insyaallah kesuksesan dunia dan akhirat pun akan kita raih. Lihatlah bagaimana para sahabat nabi terdahulu, sebelum kedatangan Islam, mereka adalah kaum yang terpencil dan tak diperhitungkan yang tinggal di sekitaran padang pasir. Akan tetapi kemudian mereka menjadi kaum yang mulia dan ditolong oleh Allah ta'ala ketika mereka menegakkan tauhid dan menjauhi syirik, sehingga mereka pun menjadi kaum yang sangat disegani oleh yang lainnya, bahkan mereka berhasil menaklukkan dua kerajaan yang besar di masa mereka, yaitu Romawi dan Persia. Mereka dikaruniai oleh Allah negeri yang aman dan tentram lagi penuh keberkahan. Di zaman mereka pula Islam tersebar hingga hampir ke seluruh penjuru dunia. Bahkan mereka pun mendapatkan gelar pujian dari Allah ta'ala Sang Pencipta alam semesta, yaitu:
 رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ
Radhiyallahu ‘anhum waradhu ‘anhu (Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah)” Karena apakah Allah memuliakan dan menolong mereka? Karena tauhid yang telah menancap kuat dalam hati-hati mereka dan telah mereka amalkan dan dakwahkan sepanjang perjalanan hidup mereka. Sehingga mereka hanya murni berjuang untuk kemuliaan Islam, untuk meninggikan kalimat Allah di atas muka bumi ini, maka Allah pun memuliakan mereka.
Mari Kembali kepada Islam
Maka apabila kita ingin meraih kesuksesan dan kemuliaan di dunia dan akhirat sebagaimana yang telah diraih oleh para sahabat Nabi, kita harus kembali kepada Islam, kembali kepada tauhid. Kita beribadah hanya kepada Allah saja dan kita jauhi segala bentuk peribadahan kepada selain-Nya, serta kita amalkan agama Islam yang telah diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai dengan yang telah dipahami oleh para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum. Karena inilah jalan satu-satunya untuk bisa keluar dari kehinaan dan keterpurukan umat Islam, menuju kemuliaan, keamanan, dan keberkahan.
Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah berkata:
كُنَّا أَذَلُّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلَامِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ العِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ
“Dahulu kita adalah suatu kaum yang hina, maka Allah memuliakan dengan agama Islam, maka apabila kita mencari kemuliaan selain dengan Islam yang menjadikan kita mulia, pasti Allah menghinakan kita.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 207, beliau menilainya shahih sesuai syarat Syaikhain)
Imam Malik rahimahullah berkata:
لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلْحَ أَوَّلَهَا
“Tidak akan bisa memperbaiki urusan akhir umat ini (kaum muslimin pada hari ini), kecuali dengan cara yang telah menjadikan baik urusan umat pertama ini (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum).” (Mawaridul Aman al-Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayidisy Syaitan karya Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafidzahullah hal. 265)
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu berpegang teguh dengan tauhid dan menjauhi kesyirikan dengan segala macam bentuknya, hingga Allah mewafatkan kita di atas agama Islam yang mulia ini.
___________

Hari Raya Idul Adha 1438 H
Di sebelah pegunungan kec. Buayan, Kebumen
Abu Ibrohim Ari bin Salimin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.