Kamis, 11 Mei 2017

MENGENAL TAUHID DAN SYIRIK (Bagian 01)

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah mewajibkan melalui banyak ayat al-Qur’an agar kita selalu bertakwa. Di antaranya adalah Firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr [59]: 18)
Maka ketahuilah bahwa ketakwaan yang paling takwa dan perintah Allah yang paling agung adalah mentauhidkan-Nya, sedangkan larangan Allah yang paling besar dan paling berbahaya adalah kesyirikan. Bahkan masalah inilah yang menjadi tugas seluruh Nabi dan Rasul, yaitu mengajak manusia agar bertauhid dan meninggalkan kesyirikan.
Allah ta'ala telah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت
Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut (berhala).’” (QS. an-Nahl [16]: 36)
Melalui ayat ini kita mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta'ala terus-menerus mengutus Rasul-Nya dengan tugas yang sama dan sangat penting lagi paling utama, yaitu agar manusia mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan. Menunjukkan masih ada saja manusia-manusia yang terjatuh ke dalam kesyirikan, sejak zaman Rasul yang pertama hingga Rasul yang terakhir. Oleh karena itulah, jangan sampai kita merasa aman dari kesyirikan, karena bisa saja kita pun terjatuh ke dalamnya. Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman tentang bahaya kesyirikan:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
Sesungguhnya siapa saja yang berbuat kesyirikan, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (QS. al-Maidah [5]: 72)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah bersabda:
مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارِ
“Barangsiapa bertemu Allah (meninggal dunia) tanpa pernah berbuat kesyirikan sedikitpun maka ia masuk surga, dan barangsiapa bertemu Allah pernah berbuat kesyirikan maka ia masuk neraka.” (HR. Muslim 93)
Maka perkara tauhid dan syirik adalah perkara yang sangat amat besar sekali. Karena masalah ini adalah masalah surga dan neraka. Sekali saja seseorang berbuat kesyirikan dan tidak bertaubat, ancamannya adalah kekekalan di dalam neraka. Sehingga sudah menjadi kewajiban yang paling pertama dan paling utama bagi kita, untuk mempelajari tauhid serta yang menjadi lawannya yaitu syirik. Insyaallah melalui tulisan ini kita akan berusaha memahami apa itu tauhid dan apa itu syirik.
Tauhid adalah lawan bagi syirik. Ketika kita mempelajari tauhid dan memahaminya, maka kita juga akan mempelajari tentang kesyirikan dan bentuk-bentuknya. Syirik adalah menjadikan selain Allah seperti Allah, atau sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah dalam Kitabut Tauhid karya beliau hal. 9, yaitu menjadikan tandingan bagi Allah dalam kekhususan perbuatan-Nya dan dalam peribadahan kepada-Nya.
Nah, agar kita lebih memahami apa dan bagaimana kesyirikan itu, maka kita perlu memahami tauhid terlebih dahulu. Semoga penjelasan berikut ini bisa dipahami.
Apabila kita membaca kitab-kitab tentang akidah (keyakinan) Islam yang telah ditulis oleh para ulama, maka kita akan mendapati bahwa para ulama memaknai tauhid dan membaginya menjadi tiga. Tauhid adalah mengesakan Allah ta’ala (meyakini hanya Allah lah satu-satunya), dalam perbuatan-Nya, dalam peribadahan kepada-Nya, dan dalam Nama-namaNya yang indah serta Sifat-sifatNya yang mulia.
Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:
وَنُؤْمِنُ بِوَحْدَانِيَتِهِ فِيْ ذَلِكَ، أَيْ بِأَنَّهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فِيْ رُبُوْبِيَّتِهِ وَلَا فِيْ أُلُوْهِيَّتِهِ وَلَا فِيْ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
“Kita meyakini ke-Esa-an Allah dalam masalah tauhid ini. Yaitu bahwasanya Allah tak memiliki sekutu dalam perbuatan-Nya (rububiyah), tidak dalam peribadahan kepada-Nya (uluhiyah), tidak pula dalam nama-nama dan sifat-sifatNya (asma wa shifat).” Kemudian beliau menyebutkan Firman Allah ta'ala:
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh-hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam [19]: 65). (Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah hal. 9)
Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya
Poin pertama yaitu mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, yang kemudian disebut oleh para ulama dengan “Tauhid Rububiyah”. Maksudnya yaitu kita sebagai manusia harus meyakini bahwa Allah melakukan perbuatan-perbuatan khusus yang hanya Dia saja yang bisa melakukannya, adapun selain Allah maka tidak ada satupun yang bisa melakukannya. Sehingga apabila ada orang yang meyakini bahwa selain Allah ada yang bisa berbuat seperti Allah, berarti dia telah berbuat kesyirikan. Karena berarti dia telah menganggap selain Allah itu seperti Allah, maka sama saja dia telah menjadikan tandingan bagi Allah. Mari kita simak penjelasan berikut ini:
Di antara kekhususan perbuatan Allah yang harus kita yakini adalah bahwa tidak ada yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur alam semesta kecuali hanya Allah saja. Maka apabila seseorang meyakini atau menganggap selain Allah ada yang bisa menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur alam semesta, berarti dia telah menjadikan tandingan bagi Allah, dia telah berbuat kesyirikan.
Allah ta'ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Dia-lah Allah ta'ala satu-satunya yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu, yang tidak ada satu nikmatpun yang dirasakan oleh seorang hamba kecuali berasal dari-Nya. Juga tidak ada yang mendatangkan satu kebaikan pun kecuali Dia, tidak ada yang menolak satu keburukan pun kecuali Dia. Dia yang memiliki nama-nama yang indah (asma’ul husna) dan sifat-sifat yang sempurna lagi agung, agung lagi mulia.” (Taisirul Karimir Rahman hal. 340)
Sehingga dengan demikian, meyakini jimat-jimat atau rajah-rajah bisa melancarkan rizki seperti melariskan dagangan adalah kesyirikan, meyakini sajen-sajen bisa membuat hasil panen pertanian dan perkebunan melimpah adalah kesyirikan, meyakini pawang atau semisalnya bisa menurunkan hujan adalah kesyirikan, meyakini sapu lidi, bawang merah dan cabe bisa menolak turunnya hujan adalah kesyirikan.
Demikian pula kita harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa menyembuhkan orang sakit kecuali hanya Allah ta'ala saja. Apabila seseorang meyakini selain Allah bisa menyembuhkan berarti dia telah berbuat kesyirikan. Allah ta'ala telah berfirman:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Dan apabila aku sakit; maka Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. asy-Syu’ara [26]: 80)
Adapun dokter, maka ia hanya sebagai penyebab saja dan tidak bisa menyembuhkan, sehingga para dokter jangan sampai merasa sombong.
Demikian pula kita harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan musibah dan menolak bencana kecuali hanya Allah subhanahu wa ta'ala saja. Apabila seseorang meyakini ada selain Allah yang bisa mendatangkan musibah atau menolak bencana, berarti dia telah berbuat kesyirikan.
Allah ta'ala berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku.’ Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. az-Zumar [39]: 38)
Allah ta'ala juga berfirman:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus [10]: 18)
Maka mempercayai bahwa jimat-jimat bisa menolak bahaya adalah syirik. Percaya bahwa hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu atau angka-angka tertentu bisa mendatangkan kesialan adalah syirik. Meyakini bahwa memberikan sesaji di tempat-tempat tertentu bisa menolak bencana adalah kesyirikan. Meminta bantuan, keselamatan, atau kekuatan kepada jin adalah kesyirikan, dan contoh-contoh lain yang semisalnya dengan meyakini selain Allah bisa berbuat seperti Allah maka semuanya adalah kesyirikan. Bahkan Allah ta'ala berfirman tentang orang-orang yang minta bantuan kepada jin:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. al-Jin [72]: 6)
Bersambung… 
--------
Abu Ibrohim Ari bin Salimin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.