Rabu, 11 Juli 2018

DI BALIK NASEHAT MEREKA


Mungkin terkadang kita merasa risih, ketika sering mendapat nasehat dari orang yang paham agama atau orang yang peduli dengan agamanya, agar kita selalu bertakwa, selalu mentaati Allah dan menjauhi larangan-Nya. Entah itu orang tua, saudara, kerabat, ustadz, teman atau bahkan dari orang yang belum begitu kita kenal. Bahkan mungkin kita tak malu-malu memprotes dan mendebatnya.
Disuruh inilah, diajak itulah...
Gak boleh ini lah, gak boleh itu lah...
Sehingga kita pun bermuka masam.
Namun ingatlah, di sisi lain kita mesti sadar, bahwa mereka melakukan hal itu adalah karena mereka peduli dengan kita, peduli dengan keselamatan kita, di dunia maupun di akhirat.

Karena sebagai manusia kita harus paham, bahwa hawa nafsu ini selalu menyuruh pada keburukan, bahkan menyenanginya. Bahkan kita dituntut untuk mengendalikan diri kita agar tunduk kepada aturan Allah yang telah menciptakan kita.
Karena di dunia ini kita sedang diuji. Allah pun telah menyediakan Surga sebagai motivasi bagi yang mentaati-Nya serta bersabar di atasnya, dan menyediakan Neraka sebagai ancaman bagi yang mendurhakai-Nya.
Kita tahu hal itu, namun seolah-olah kita sering mengabaikannya. Kita pun beralasan guna menghibur diri dan menghiasi kesalahan kita sendiri, padahal kita tahu perbuatan kita itu keliru.
"Ah, ini kan cuma sedikit, ini kan cuma begini, cuma begitu."
"Kan cuma sekali, besok kan nggak lagi, nanti kan saya taubat."
"Wah, nggak gitu juga gak papa, nggak melaksanakan ini juga gak papa."
Saudaraku, saudariku...
Memang hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk meraih ketakwaan, untuk menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya.
Ketika kita merasa bahwa perbuatan kita itu melanggar syari'at Allah, maka itulah pertanda bahwa ada keimanan dalam diri kita. Itu adalah kode dari keimanan kita agar kita meninggalkannya, meskipun jiwa kita dan juga setan berbisik bahwa itu tidak apa-apa.
Maka hendaknya kita lebih condong kepada keimanan kita, sebelum ia terkalahkan, atau bahkan tertutupi oleh maksiat yang dilakukan dan dibela oleh diri kita sendiri.
Inilah peperangan, inilah petempuran, inilah jihad. Jihad melawan hawa nafsu, agar ia mau selalu tunduk kepada aturan Allah 'azza wajalla.
Di sinilah hendaknya kita merasa terbantu dengan saudara saudari kita yang peduli pada diri kita, dengan nasehat-nasehat yang mereka sampaikan.
Justru mereka sedang berbuat baik kepada kita, meskipun sepertinya mereka menghalang-halangi kita dari keinginan kita. Namun sadarilah, bahwa justru mereka sedang menghalangi kita dari api Neraka yang menyala-nyala.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mereka.
وَذَكِّر فَإِنَّ الذِّكرَى تَنفَعُ الْمُؤمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 55)
Mari berjuang meraih ketakwaan! Semoga Allah mudahkan.
--------
Abu Ibrohim Ari bin Salimin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.