Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Januari 2021

BISA JADI MASALAHNYA ADA PADA KITA

 


            Melihat satu titik putih yang ada di lembaran hitam, atau satu titik hitam di lembaran putih, mata kita fokus tertuju pada satu titik itu. Mata kita pun mengabaikan warna lain yang begitu luas itu dibanding dengan titik tersebut. Mungkin seperti inilah gambaran untuk ungkapan yang telah masyhur dalam bahasa kita: "Semut di ujung lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak."

Kadangkala ketika terjadi konflik dengan suami/istri kita, kita marah, dan kita selalu fokus hanya memikirkan kekeliruannya saja. Senantiasa kita memikirkan itu sehingga kekeliruannya nampak begitu besar, padahal sebenarnya itu kecil, sedangkan kebaikannya begitu banyak. Hingga kebaikan yang banyak itu pun seolah terkubur dengan sedikit kekeliruannya. Padahal wajar, sebagai manusia pasti memiliki kekurangan atau melakukan kekeliruan, bukankah kita juga demikian? Selagi kekeliruan itu masih bisa ditolerir, maafkanlah. Lihatlah sisi kelebihannya yang begitu banyak. Ingatlah, dia adalah pasangan hidup kita yang senantiasa membersamai kita dalam suka dan duka.

Rabu, 01 Januari 2020

TANPA ISLAM AKHLAK SESEORANG TAK AKAN SEMPURNA


Setiap orang lahir dengan membawa wataknya masing-masing, dan watak sangat erat kaitannya dengan akhlak. Sedangkan Islam datang untuk menyempurnakan akhlak.
Maka siapa yang hendak memperbaiki dan menyempurnakan akhlaknya, ia harus mempelajari Islam dan mengamalkannya. Siapa yang hendak memperbaiki akhlaknya tanpa Islam, maka akhlaknya tak akan pernah sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 8952 dan Bukhari dalam Adabul Mufrad 273. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 207)
Maka tabiat bawaan yang buruk pada diri seseorang bisa diperbaiki dengan niat yang kuat untuk memperbaikinya, mempelajari akhlak yang baik, banyak latihan menerapkan akhlak yang baik, berusaha meninggalkan akhlak yang buruk, meneladani akhlak mulia para ahli ilmu, dan berdoa memohon akhlak yang baik.

Selasa, 25 September 2018

DI ANTARA KETELADANAN ULAMA


Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily hafidzahullah, seorang guru besar untuk fatwa di Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi membaca sebuah lembar pertanyaan. Penanya memulai pertanyaannya dengan sapaan kepada beliau:
“Wahai Samahatusy Syaikh…”
Maka sambil tersenyum Syaikh Sulaiman mengucapkan:
“Aku bukan Samahatu, tapi aku Sulaiman ar-Ruhaily.”
Demikianlah di antara ketawadhuan ulama, beliau enggan digelari dengan pujian, padahal beliau layak dipuji. Betapa ahli ilmu selalu berusaha menjaga hatinya agar selalu ikhlas dan menjauhi hal-hal yang bisa mengurangi keikhlasannya.

Kamis, 23 Agustus 2018

AKU PULANG PAK… AKU PULANG BU...

Seorang anak merasa senang setelah mendapat gaji bulanannya yang ke sekian kalinya. Kali ini ia bergembira karena telah merasa memiliki cukup simpanan di tabungannya, sehingga ada sedikit dari gajinya yang bisa ia sisihkan untuk ia berikan kepada kedua orang tuanya yang selama ini telah membesarkannya.
Ia pun pulang dari perantauannya setelah tiba masa libur kerja. Hanya beberapa hari saja, tidak lama. Beberapa hari yang bisa ia sempatkan dari sekian lama berpisah dengan kedua orang tuanya. Kali ini ia baru sempat untuk berkunjung menemui orang tuanya yang telah lama ia tinggalkan.
Sesampainya di rumah orang tuanya, si anak menyalami bapak dan ibunya yang telah beranjak tua. Ia pun berbahagia sekali bisa kembali melihat wajah kedua orang tuanya yang telah merawatnya sejak bayi.

Selasa, 14 Agustus 2018

KETIKA KITA MENDAPAT NASEHAT


Terkadang, seseorang membaca atau mendapatkan nasehat, kemudian ia merasa nasehat itu bermanfaat dan menyentuh hatinya. Maka ia pun ingin agar orang lain mendapatkan nasehat yang telah ia dapatkan. Ia pun menyebarkannya, sehingga ia berharap agar nasehat itu juga bermanfaat untuk saudara saudarinya sesama kaum muslimin.
Bukan Berarti Karena Merasa Lebih Baik
Oleh karena itu, ketika ada saudara kita yang membagikan sebuah pesan nasehat, tidak mesti karena dia itu merasa lebih baik dari yang lainnya. Tapi justru dia ingin agar kita juga mendapatkan manfaat sebagaimana ia telah mendapat manfaat dari yang ia bagikan itu. Justru dia adalah orang yang peduli dengan kebaikan kita, ia sedang mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian (dengan keimanan yang sempurna), sehingga ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai (kebaikan) untuk dirinya.” (HR. Bukhari 13 dan Muslim 45)

Jumat, 10 Agustus 2018

MENDIDIK DENGAN KETELADANAN


Salah satu hal yang bisa kita dapatkan dari psikologi perkembangan anak, adalah bahwasanya mereka sangat mudah meniru dan mempraktekkan ucapan ataupun perbuatan yang mereka lihat atau mereka dengar.
Apa yang dilihat atau didengar oleh anak dari orang tuanya atau selainnya, bisa sangat memberikan pengaruh bagi mereka, terutama dalam pembentukan akhlak mereka.
Bahkan meskipun mereka tidak diajari secara langsung dengan perkataan, misalnya: "Kamu harus begini ya! Kamu harus begitu ya!" Anak-anak bisa langsung menangkap dan mencontoh apa yang mereka lihat.
Kita pun bisa menyaksikan hal ini pada anak-anak di sekitar kita, atau bahkan pada anak kita sendiri. Entah itu dari ucapan mereka, perbuatan mereka, penampilan mereka, dan yang lainnya.

Kamis, 19 Juli 2018

TERIMA KASIH KITA UNTUK MEREKA


Ada kalanya atau mungkin sering, kita mendapatkan bantuan, hadiah, atau kebaikan dari seseorang, entah itu saudara, kerabat, tetangga, teman, atau bahkan dari orang yang tak kita kenal. Terkadang kebaikan itu tiba di saat-saat kita sedang sangat membutuhkannya.
Di samping itu, mereka justru nampak merasa senang dan seolah-olah justru berterima kasih karena kita mau menerimanya. Begitu nampak mereka tak membutuhkan balasan ataupun ucapan terima kasih kita. Sungguh akhlak yang sangat mulia dan kedermawanan yang begitu menawan.
Sehingga kita pun terharu, senang, tak menyangka, merasa sangat berhutang budi, dan berterima kasih sekali. Terkadang ketika kita ingin membalas kebaikan mereka, ternyata apa daya kita pun tak bisa membalasnya karena kita memang sedang kesusahan atau tak ada kesempatan.

Jumat, 01 Juni 2018

MENDIDIK DENGAN AKHLAK

Terkadang -atau bahkan lebih sering- mendidik dengan contoh akhlak itu lebih mengena daripada dengan kata-kata.
Terkadang -atau bahkan lebih sering- mendidik dengan contoh akhlak itu lebih mengena daripada dengan kata-kata.
Seorang anak yang selalu melihat bapaknya rajin ke masjid, rajin baca Qur’an, rajin ibadah... Tentu berbeda dengan seorang anak yang tiap hari melihat bapaknya rajin nonton televisi, jarang ke masjid, jarang baca qur'an, sering merokok, jarang ibadah... Berbeda!!
Seorang anak yang selalu melihat ibunya rajin baca Qur’an, rajin shalat, taat pada suami, tutur katanya lembut padanya, selalu menjaga aurat, rajin ibadah... Tentu berbeda dengan seorang anak yang hampir tiap hari melihat ibunya rajin nonton sinetron, suka dandan dan tanpa berjilbab ketika keluar rumah, sering teriak-teriak di depan suami, sering marah-marah, kurang rajin beribadah.... Berbeda!!

Rabu, 23 Mei 2018

HADITS KE 08: MENGUAP ADALAH DARI SETAN


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( التَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ ))
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Menguap adalah dari setan, oleh karena itu apabila kalian menguap maka tolaklah semampunya.” (HR. Bukhari 3289 dan Muslim 2994)
Pernahkah anda melihat atau membayangkan seseorang yang sedang berbicara di hadapan orang-orang, tapi tiba-tiba ia membuka mulutnya selebar-lebarnya tanpa menutupnya, sehingga seolah-olah ia akan menyedot semua yang ada di hadapannya?! Belum lagi jika ditambah suara khas orang menguap yang keluar dari mulutnya: “Haaah”. Tentunya ini bukanlah pemandangan yang indah bukan?! Justru sebaliknya, kita pasti merasa risih dan tidak enak jika melihatnya.

Selasa, 06 Maret 2018

MALU ADALAH BAGIAN DARI IMAN


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Iman itu tujuh puluhan cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Muslim 35)
Hadits ini menjelaskan tentang keimanan, dimana keimanan itu seperti pohon yang memiliki pokok dan cabang, seperti yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24)

Minggu, 28 Januari 2018

ANUGRAH DAN UJIAN DALAM PENGAJARAN

Guru memiliki peran yang sangat besar dalam penyebaran ilmu dan dalam penjagaan manusia di atas kemuliaan beribadah hanya kepada Allah ta'ala saja.
Maka benar saja ketika ada yang mengatakan bahwa tanpa guru, maka manusia akan sama seperti binatang.
Seorang guru -dengan karunia Allah- bisa merubah sebuah umat yang hina menjadi mulia, mengangkat kedudukan sebuah masyarakat yang tertinggal menjadi maju terhormat dan bermartabat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Sebagai Teladan
Cukuplah bagi kita sebuah contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menjadi guru bagi  manusia. Lihatlah bagaimana para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum menjadi umat yang mulia dan mampu menguasai dunia dari Timur hingga baratnya. Mereka adalah murid-murid didikan langsung Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Jumat, 04 Agustus 2017

MENGHINDARKAN GANGGUAN

Jika kita belum bisa berbuat baik atau memberi manfaat kepada orang lain, maka paling tidak kita menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Inilah sebuah kalimat yang perlu kita jadikan sebagai bahan renungan bagi kita bersama.
Bentuk Mengganggu Terkadang Tidak Disadari
Terkadang kita mengganggu orang lain namun kita tak sadar, sebagai contoh: Buang sampah sembarangan, meludah atau buang ingus sembarangan. Hal ini tentunya membuat orang yang melewatinya merasa terganggu dengan baunya atau dengan pemandangan yang tidak mengenakkan, atau minimalnya ia mengerutkan dahi karena merasa jijik. Termasuk juga kedaraan-kendaraan yang diparkir sembarangan, sehingga sedikit atau banyak menghalangi jalan orang yang lewat. Tapi ini masih mending, yang lebih parah lagi adalah yang sampai membuat kemacetan, atau bahkan ada yang menutup jalan raya karena kepentingan pribadi, semisal hajatan, walimahan, atau yang sejenisnya.

Kamis, 03 Agustus 2017

JAWAMI'UL KALIM

Kucoba tuk merangkai kata
Susunan kalimat yang indah mempesona
Agar manusia terenyuh dengan sajaknya
Hingga merekapun terpengaruh dengan isinya
Namun bingung juga menentukan tiap akhir kalimatnya
Butuh waktu lama tuk memilih-milihnya
Hingga akhirnya pun aku merasa kesusahan
Bahkan semakin lama ku semakin kewalahan
Maka ku sadar bahwa tak perlu kuteruskan
Kemudian aku teringat akan suatu keajaiban
Akan seseorang yang dikaruniai keberkahan lisan
Dialah sang Utusan Allah Ar-Rahman
Yang membawa amanah menyampaikan kitab suci al-Qur'an
Tahukah kalian apa yang kumaksudkan??
Jawami'ul kalim namanya jika kau tahu kawan
Yaitu sedikit  ucapan yang merangkum begitu banyak pelajaran
Cobalah kalian renungkan

Kamis, 04 Mei 2017

HADITS KE 04: BAHAYA BERKATA TANPA ILMU

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا فِيْ النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ )) [متفق عليه: ب 6477، م 2988]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang belum jelas (apakah itu baik atau buruk), sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari 6477 dan Muslim 2988)
Lisan merupakan salah satu anggota badan yang memiliki banyak bahaya jika tidak dikontrol dengan baik. Hadits ini menjelaskan salah satu bahaya besar lisan yang harus kita waspadai, yaitu ketika seseorang berucap tanpa ilmu, tidak jelas baginya apakah ucapannya itu baik ataukah buruk. Sebuah ucapan yang mudah saja diucapkan oleh lisan, namun ternyata berakibat sangat fatal dan mendapat hukuman yang sangat berat.

Minggu, 09 April 2017

HARUSKAH ENGKAU LAMPIASKAN AMARAHMU?

Marah merupakan salah satu tabiat manusia yang dibawa sejak lahir. Ketika seorang manusia merasa terganggu atau tersakiti, hatinya merasa ingin membalas dan berontak, yang kemudian diekspresikan oleh wajahnya, dan ia ingin melampiaskan isi hatinya itu dengan lisan ataupun anggota badannya. Kurang lebih demikianlah yang kita rasakan sebagai seorang manusia ketika marah.
Marah yang tidak dikendalikan dengan baik ketika muncul akan mengarah kepada keburukan dan bahkan kerusakan. Oleh karena itu sebagai seorang muslim, hendaknya kita memahami bagaimanakah sikap kita ketika marah agar tidak menjadi dosa dan keburukan atau bahkan kebinasaan.
Marah Adalah Sifat yang Harus Diwaspadai
Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata: “Marah adalah kunci dari segala keburukan.” Dan pernah dikatakan kepada Ibnul Mubarak rahimahullah: “Jadikanlah untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata!” Maka beliau menjawab: “Meninggalkan marah.” (Jami’ul Ulum wal Hikam 363)

Jumat, 07 April 2017

HADITS KE 03: MENJAUHI PRASANGKA BURUK

Di antara ajaran Islam dalam bermuamalah dengan manusia adalah agar selalu berprasangka baik kepada orang lain. Hal ini termasuk akhlak yang mulia, karena dengan kita berprasangka baik kepada orang lain, maka kita akan menjaga diri dari mencari-cari keburukan dan kesalahannya, juga menjaga diri dari membicarakan aibnya, serta tidak menuduhnya dengan tuduhan dusta. Sehingga akan memberikan efek ketenangan dan keamanan bagi hati serta menghindarkan timbulnya kebencian.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Bukhari 5143 dan Muslim 2563)

Sabtu, 11 Maret 2017

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

Agama Islam sangat memperhatikan sekali masalah berbakti kepada orang tua, hingga meskipun orang tua kita telah meninggal dunia, kita pun masih tetap bisa berbakti kepada mereka. Bahkan mereka lebih membutuhkan bakti kita setelah meninggal dunia. Karena ketika mereka masih hidup, mereka masih bisa beramal, namun setelah mereka tiada, mereka tak bisa beramal lagi. Maka hendaknya kita perbanyak bakti kita kepada orang tua kita ketika salah satu atau keduanya telah tiada. Lalu bagaimanakah kita berbakti kepada orang tua kita yang telah meninggal dunia? Berikut inilah pemaparannya:
1.      Mendoakannya dan memohonkan ampun untuknya
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim 1631)

Minggu, 05 Maret 2017

HADITS KE 02: BESARNYA KEDUDUKAN SEORANG IBU

Berbakti kepada orang tua akan terus ada selama kita hidup, karena berbakti kepada orang tua bukan hanya ketika mereka hidup, namun juga ketika mereka telah meninggal dunia. Berbakti kepada orang tua adalah syiar Islam, yang dengannya diketahui keindahan Islam dalam berakhlak mulia. Sekaligus menunjukkan bahwa agama Islam sangatlah perhatian dengan akhlak seorang muslim kepada orang tuanya.
Kewajiban Berbakti pada Orang Tua
Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang utama. Bahkan Allah mengiringkan perintah berbakti kepada orang tua dengan perintah mentauhidkannya. Dia berfirman dalam ayat tentang berbakti kepada orang tua:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. al-Isra’ [17]: 23-24)

Kamis, 02 Maret 2017

JANGANLAH MEREMEHKAN KEBAIKAN

Seorang muslim meyakini bahwa hidupnya di dunia ini hanyalah sekejap saja dan tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi selama-lamanya. Sehingga perhatiannya akan selalu tertuju pada kehidupan akhirat kapan dan dimanapun ia berada serta apapun kondisinya. Maka seorang muslim akan selalu berusaha memperbaiki dirinya, dengan memperbaiki agamanya serta memperbaiki hubungannya dengan Allah Yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta.
Amalan Kita akan Ditimbang
Di antara keyakinan kita sebagai seorang muslim adalah bahwa amalan kita kelak akan ditimbang di akhirat. Siapa yang timbangan kebaikannya berat, maka beruntunglah ia, namun apabila timbangan kebaikannya ringan maka celakalah ia.

Senin, 06 Februari 2017

JIKA TAK MALU BERBUATLAH SESUKAMU

عَنْ أَبِيْ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُوْلَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya apa yang didapat oleh manusia dari perkataan nabi yang terdahulu adalah jika kamu tidak malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR. Bukhari 6120)
Malu adalah merupakan akhlak yang mulia. Perasaan malu bisa menghalangi manusia dari perbuatan dosa yang tercela. Malu bisa menjadikan manusia senantiasa tetap berada dalam perkara kebaikan. Malu adalah merupakan bagian dari keimanan. Malu adalah akhlak terpuji yang hendaknya senantiasa dipelihara oleh setiap muslim.