Sesungguhnya
mempelajari dan menghafalkan hadits-hadits yang shahih merupakan upaya yang
sangat baik sekali dalam mengenal agama Islam dengan kemurniannya. Tentunya
juga dalam memahaminya, yaitu dengan mengikuti pemahaman para ulama salaf dalam
pengamalannya. Maka sesungguhnya menghafalkan hadits-hadits Nabi,
mempelajarinya dan menyebarkannya adalah merupakan bentuk kita mengikuti jejak
para ulama dalam menjaga agama Islam yang mulia ini dari berbagai macam
penyimpangan. Dan hal ini memiliki keutamaan yang banyak, berikut ini di
antaranya:
Selamat datang di ahsanary.blogspot.com, sebuah blog yang kami jadikan sebagai sarana berbagi ilmu kepada kaum muslimin. Berharap semoga situs ini memberikan manfaat dan menjadi sumbangsih kepada dakwah Islam yang mulia ini. Waffaqanallahu waiyyakum.
Jumat, 01 November 2019
Selasa, 01 Oktober 2019
KEMULIAAN PARA ULAMA
Sudah menjadi ketetapan Allah bahwa orang yang berdakwah
mengajak kepada kebenaran pasti akan mendapatkan ujian dalam dakwahnya, baik
itu dari diri sendiri maupun orang lain. Mereka pun mendapatkan permusuhan dari
orang-orang yang bodoh ataupun para pengikut dan penyeru kebatilan. Sehingga
banyak di antara manusia yang kemudian melemparkan tuduhan palsu, mencela, dan
memusuhi, bahkan memerangi para penyeru kebaikan, terutama kepada para ulama.
Hal ini terjadi ketika para ulama dan para penyeru kebaikan menjelaskan tentang
hakikat kesyirikan dan kebid’ahan serta bahayanya bagi umat.
Minggu, 01 September 2019
PESAN UNTUK PARA PEROKOK
Melihat para perokok di
zaman ini persis seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
tentang permisalan teman yang buruk; jika ia tidak membuatmu terbakar maka
minimalnya engkau mencium bau tidak sedap dari asapnya. Persis: jika engkau tak
mendapat contoh dan perlakuan akhlak buruk darinya, maka minimalnya engkau
mencium bau rokok dan bau mulutnya.
Mestinya para perokok
khawatir kalau-kalau betapa banyak orang yang menuntutnya kelak di hari kiamat,
lantaran banyak orang yang terganggu dan terdzalimi dengan bau rokoknya.
Sehingga betapa banyak pahala yang akan hilang darinya kelak.
Sabtu, 17 Agustus 2019
PELAJARILAH BAHASA ARAB
Betapa banyak ilmu yang
luput dari kita ketika kita tak paham bahasa Arab, belum lagi kenikmatan dalam
merenungi bacaan al-Qur’an, termasuk juga ketenangan dalam menghayati bacaan
shalat, serta rasa penuh harap dan tunduk kepada Allah ketika kita berdoa
menggunakan doa-doa berbahasa Arab.
Bahasa Arab adalah
bahasa al-Qur’an Firman Rabb kita, bahasa Nabi kita shallallahu 'alaihi wa
sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum, juga
bahasa para ulama Islam. Bahasa Arab adalah bahasa kita kaum muslimin.
Kalau para ulama saja,
yang mereka sehari-harinya berbicara bahasa Arab, mau mempelajari dan
memperdalam ilmu bahasa Arab, apalagi kita… Tentulah kita lebih pantas dan
lebih butuh untuk mempelajari bahasa Arab.
Senin, 15 Juli 2019
MENCATATLAH
Nikmatilah mencatat
materi yang disampaikan guru atau ustadz saat pengajian. Sesungguhnya ada
kenikmatan saat kita mencatat ilmu. Hal ini tentunya tidak dirasakan oleh orang
yang tidak mencatat, apalagi oleh mereka yang tidak datang ke pengajian.
Di antara faedah utama mencatat saat
pengajian adalah:
-
Lebih fokus dalam menyimak
-
Mengurangi rasa kantuk
-
Membantu memahami materi
-
Meraih inti kajian
-
Kapan saja mudah dimurajaah
(dipelajari ulang), terutama saat lupa
Sabtu, 22 Juni 2019
PAHAMILAH KADAR DIRIMU
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah
berkata:
رَأْسُ
الْأَدَبِ مَعْرِفَةُ الرَّجُلِ قَدْرَهُ
“Pokok adab yang baik adalah
pengenalan seseorang terhadap kadar dirinya.” (Al-Iqdul Farid 2/244,
lihat Mawa'idhush Shalihina wash Shalihat hal. 144 karya Syaikh Hani
al-Hajj hafidzahullah)
Ini adalah ucapan yang
sedikit, namun sangat berfaedah, yang merupakan keistimewaan dari ucapan para
ulama salaf. Orang yang tahu dan sadar akan
kapasitas dirinya, dia akan berbuat sesuai apa yang ia miliki saja. Maka orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu, ia akan diam
dan menuntut ilmu, bukan malah sok tahu. Dan ini adalah adab yang baik.
Sabtu, 11 Mei 2019
KETIKA KITA MENULIS
Di antara adab dalam berbicara dalam
bermedia sosial, khususnya di grup WA yang disitu semua anggota bisa berkirim
pesan, adalah hendaknya kita memperhatikan dan menimbang-nimbang ketika kita
hendak menulis.
Ketika kita menulis; entah itu opini,
tanggapan, komentar, kritikan, candaan, dan tulisan lainnya, lalu tulisan kita
itu dibaca orang, maka itu berarti kita menyita waktu orang lain yang membaca
tulisan kita. Belum lagi akibat yang dihasilkan dari tulisan tersebut, apakah
baik ataukah buruk.
Oleh karena itu tulislah yang
berfaedah, tulislah sesuatu yang memang perlu, atau mengandung manfaat, apalagi
kalau tulisannya panjang. Jangan kita menghabiskan waktu orang lain untuk
membaca tulisan kita yang tidak bermanfaat, apalagi mengandung syubhat atau
keburukan.
Senin, 29 April 2019
LEBIH BAIK DARI DUNIA DAN SEISINYA, MAU?
Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ
مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“Dua raka'at fajar (shalat sunnah
qabliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim 725)
Ini baru keutamaan
shalat qabliyah shubuh, apalagi shalat shubuhnya...
Namun betapa banyak
kaum muslimin yang merasa sangat berat melaksanakannya, apalagi melangkahkan
kakinya menuju masjid untuk shalat shubuh berjamaah.
Padahal, kalau bangun
pagi sebelum shubuh untuk kegiatan lainnya begitu bersemangat. Contoh: bertani
di sawah dan ladang, berdagang di pasar, berangkat ke pabrik atau kantor,
dan... semisalnya... Termasuk nonton sepak bola.
Minggu, 31 Maret 2019
BERDZIKIR MENGINGAT ALLAH
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ وَذِكْرُ اللهِ دَوَاءٌ
“Mengingat manusia adalah
penyakit, sedangkan mengingat Allah adalah obat.” (Mawa’idhush Shalihina
wash Shalihat karya Syaikh Hani al-Hajj hafidzahullah hal. 135)
--------
Abu Hatim rahimahullah berkata:
أَرْبَحُ التَّجَارَةِ ذِكْرُ اللهِ وَأَخْسَرُ التِّجَارَةِ
ذِكْرُ النَّاسِ
“Perdagangan yang paling
menguntungkan adalah mengingat Allah, sedangkan perdagangan yang paling
merugikan adalah mengingat manusia.” (Mawa’idhush Shalihina wash Shalihat
karya Syaikh Hani al-Hajj hafidzahullah hal. 394)
Jumat, 08 Februari 2019
BAHAYA BID’AH
Bid’ah atau yang didefinisikan oleh para ulama dengan perkara
baru dalam agama yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum, memiliki
bahaya yang banyak bagi seorang hamba, sehingga kita harus waspada terhadapnya.
Di antara bahaya-bahaya itu adalah sebagai berikut:
1. Sebab perpecahan
Allah
'azza wa jalla berfirman:
وَلَا
تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Janganlah kalian
ikuti jalan-jalan yang lain (selain jalan Allah),
karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.”
(QS.
al-An’am [6]: 153).
Rabu, 06 Februari 2019
CONTOH-CONTOH BID’AH
Sebagaimana penjelasan para ulama, bahwa bid’ah adalah setiap
amalan yang diada-adakan dalam agama Islam yang tidak pernah ada tuntunannya
dari Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat
beliau radhiyallahu 'anhum, maka kita bisa mengetahui bahwa contoh-contoh
amalan bid’ah ada banyak sekali, baik menyangkut keyakinan, ucapan, ataupun
perbuatan. Amalan-amalan bid’ah harus ditinggalkan dan dijauhi, karena ia
adalah perbuatan dosa dan terlarang, meskipun nampak seperti ibadah, bahkan
meskipun dianggap baik dan diamalkan oleh banyak orang. Abdullah bin Umar radhiyallahu
'anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat, meski manusia melihatnya sebagai
sesuatu yang baik.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah 1/126
karya Imam al-Lalika’i rahimahullah - Maktabah Syamilah)
Senin, 04 Februari 2019
MAKNA BID'AH
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى
اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ
مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Aku
wasiatkan kepada kalian agar selalu bertakwa kepada Allah, dan selalu mendengar
dan taat (kepada pemimpin kalian) meskipun ia adalah seorang budak dari negeri
Habasyah, sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup setelahku, maka
ia akan melihat perpecahan yang banyak, maka berpegang teguhlah dengan sunnah
(ajaran)ku dan sunnahnya al-Khulafa`ur Rasyidin yang mendapat petunjuk,
penganglah ia erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah oleh
kalian perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan
itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud 4609,
Ahmad 17144, Ibnu Majah 42, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul
Jami’is Shaghir 2549)
Selasa, 29 Januari 2019
SIBUKLAH MEMBICARAKAN TAUHID, JANGAN SIBUK MEMBICARAKAN POLITIK!
Di saat orang-orang
banyak berbicara politik negeri ini. Mari kita sibukkan membicarakan dan
mempelajari tauhid dan sunnah agar bisa kita amalkan, serta memahami syirik dan
bid'ah agar bisa kita jauhi dan kita tinggalkan.
Karena itulah yang kita
butuhkan. Kita butuh paham akan agama kita, kita butuh tambahan dan pemupuk
keimanan, kita butuh berjalan dengan benar di atas jalannya orang-orang yang
telah mendapat hidayah dari Allah ar-Rahman, mereka adalah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum, serta
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Tidak ada perdebatan,
tidak ada tukaran caci makian, tidak ada kedustaan. Semuanya jelas di atas
wahyu al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Salaful ummah.
Selasa, 08 Januari 2019
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH Bukan Sekedar Pengakuan
Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sebutan yang masyhur di
tengah-tengah kaum muslimin. Tak heran, karena memang Ahlus Sunnah wal Jama’ah
adalah sebuah nama yang disematkan kepada orang-orang atau kelompok yang berada
di atas jalan yang lurus dan selamat. Ia selamat dari perpecahan dan kesesatan
umat, bahkan ia selamat dari ancaman siksa api neraka yang menyala-nyala. Ahlus
Sunnah wal Jama’ah akan terus ada dan senantiasa ditolong oleh Allah hingga
akhir zaman. Namun mereka adalah orang-orang yang langka, karena mereka
benar-benar berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah, di saat yang lainnya
terjatuh ke dalam kubangan hawa nafsu dan kesesatan, sehingga mereka pun
menjadi orang-orang yang terasing.
Makna
Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Kata Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengacu pada istilah Sunnah
dan al-Jama’ah.
Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah
mengatakan: “Sunnah adalah jalan yang ditempuh, yang mencakup berpegang teguh
dengan apa yang dijalani oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan al-Khulafa’ur Rasyidin yang berupa keyakinan, amalan, dan ucapan. Inilah
sunnah yang sempurna. Oleh karena itulah para ulama salaf terdahulu tidaklah
memutlakkan nama sunnah kecuali apa yang mencakup hal tersebut seluruhnya.” (Jami’ul
Ulum wal Hikam II/120)
Senin, 24 Desember 2018
KEDUDUKAN SUNNAH DALAM SYARI’AT ISLAM
Sunnah di dalam agama Islam adalah
setara dengan al-Qur’an, karena sama-sama wahyu dari Allah ta'ala. Oleh
karena itulah kita harus menjadikan sunnah sebagai hujjah (pedoman dan sumber
utama) dalam beragama sebagaimana al-Qur’an. Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
أَلاَ
إِنِّى أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab (al-Qur’an) dan
yang sepertinya (Sunnah) bersamanya.” (HR. Abu Dawud 4606, Ahmad 17174, dinilai
shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ish Shaghir 2643)
Seorang
Muslim Harus Mentaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:
وَمَا
كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ
يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan
tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang
lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”
(QS. al-Ahzab [33]: 36)
Jumat, 21 Desember 2018
MAKNA SUNNAH

Sebagai orang Islam, tentunya kita sering mendengar istilah
sunnah. Namun banyak juga di antara kita yang kurang mengetahui apa itu arti
dari sunnah. Bahkan mungkin ada sebagian yang bingung, ketika ternyata ia
mendapati bahwa sunnah tidak hanya memiliki satu makna. Maka pada tulisan ini
insyaallah akan dijelaskan tentang makna sunnah. Semoga bisa dipahami dan
bermanfaat.
Makna
Secara Bahasa
Sunnah secara bahasa adalah jalan dan juga perjalanan, yang
baik ataupun buruk. (Lisanul Arab 13/225, lihat Wasathiyah Ahlis
Sunnah bainal Firaq karya Syaikh Muhammad Bakarim Muhammad Ba’abdillah hafidzahullah
hal. 29)
Sabtu, 08 Desember 2018
WAJIBNYA MENELADANI RASULULLAH DALAM BERIBADAH

Saudara-saudariku kaum muslimin dan muslimah yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah ta'ala.
Tujuan Hidup Kita Adalah untuk Beribadah
Sebagai seorang manusia, kita menjalani kehidupan di dunia
ini semenjak dilahirkan hingga kita meninggal dunia. Kita pun menjalani
aktifitas kehidupan sebagaimana makhluk hidup yang lainnya. Hanya saja Allah
membedakan kita dengan makhluk lainnya, Allah subhanahu wa ta'ala
menciptakan kita untuk satu tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk mentauhidkan-Nya,
dengan beribadah hanya kepada-Nya saja. Dalam ayat yang insyaallah tak
asing lagi bagi kita, Allah ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku
menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.
adz-Dzariyat [51]: 56)
Kamis, 29 November 2018
JANGANLAH RAGU UNTUK TERUS MENUNTUT ILMU
Terkadang seorang
penuntut ilmu merasa minder dan seperti putus asa, ketika ia merasa kesusahan
dalam menghafalkan ilmu yang ditugaskan oleh gurunya. Bahkan ketika ia telah
merasa tertinggal jauh dari teman-temannya, ia merasa tidak mampu lagi dan memutuskan
untuk berhenti menuntut ilmu. Hingga akhirnya diapun terputus mendapatkan ilmu
dari gurunya.
Sebenarnya tidak perlu
sampai seperti itu. Justru keadaannya terus bersama ilmu dengan berusaha
menghafalnya dan memahaminya adalah lebih baik, daripada kesendiriannya
tanpa kesibukan menuntut ilmu.
Kesabaran seseorang
dalam menuntut ilmu adalah bernilai ibadah di sisi Allah.
Saudara saudariku para
penuntut ilmu... Semoga Allah menjagamu dan memudahkan urusanmu.
Permasalahannya
bukanlah pada seberapa cepat engkau paham dan hafal, tapi ada pada seberapa
besarkah usahamu untuk mendapatkan ilmu dan mengamalkannya.
Senin, 26 November 2018
TAK PERLU MINDER

Bila engkau kalah
dalam ketampanan, kecantikan, kekayaan, kecerdasan, dan kelebihan dunia yang
lainnya. Maka tak perlu engkau merasa minder ataupun putus asa.
Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam pernah bersabda:
عَنْ أَبِيْ
هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّ
اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى
قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi yang Dia
lihat adalah hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim 2564)
Kamis, 22 November 2018
HADITS KE 09: KEUTAMAAN MENGURUSI JANDA DAN ORANG-ORANG MISKIN
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ:
(( السَّاعِيْ عَلَى الأَرْمَلَةِ
وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، - وَأَحْسِبُهُ قَالَ - وَكَالْقَائِمِ
الَّذِيْ لَا يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ
))
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang mengurusi para janda dan orang-orang miskin adalah seperti orang
yang berjihad di jalan Allah -dan aku (perawi) mengira beliau pun bersabda-
seperti orang yang shalat malam terus menerus, dan seperti orang yang berpuasa tanpa
berbuka.” (HR. Bukhari 5353 dan Muslim 2982)
Hadits ini dengan
begitu jelas menunjukkan akan besarnya keutamaan mengurusi janda dan
orang-orang miskin, dengan memenuhi kebutuhan mereka atau membantu meringankan
beban mereka. Sesungguhnya para janda dan orang-orang miskin perlu mendapat
perhatian di dalam sebuah masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang lemah, dan
Allah menolong umat ini dikarenakan orang-orang lemah di antara kita.
Selasa, 13 November 2018
MENETAPI TAKWA
Abu Abdillah ar-Rudzbari rahimahullah
berkata:
التَّقْوَى
مُجَانِبَةُ مَا يُبْعِدُكَ عَنِ اللهِ
“Takwa adalah menghindari
apa saja yang membuatmu jauh dari Allah.”
(Ar-Risalatul Qusyairiyah hal.
52, lihat Mawa’idush Shalihina wash-Shalihat karya Syaikh Hani al-Hajj hafidzahullah
hal. 391)
--------
An-Nashrabadi rahimahullah berkata:
مَنْ
لَزِمَ التَّقْوَى اِشْتَاقَ إِلَى مُفَارَقَةِ الدُّنْيَا، لِأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ
يَقُوْلُ: وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُوْنَ أَفَلَا
تَعْقِلُونَ
“Siapa yang menetapi
ketakwaan, ia akan merindukan perpisahan dengan dunia, karena Allah subhanahu
wa ta'ala telah berfirman: ‘Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi
mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu
sekalian tidak mengerti?’ (QS. al-A’raf [7]: 169)”
(Ar-Risalatul Qusyairiyah hal.
56, lihat Mawa’idush Shalihina wash-Shalihat karya Syaikh
Hani al-Hajj hafidzahullah hal. 391)
--------
www.ahsanary.blogspot.com
Senin, 29 Oktober 2018
SHALATMU SHALATMU!
Allah subhanahu wa ta'ala
Sang Pencipta alam semesta mewajibkan shalat fardhu lima waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sang Nabi
penunjuk jalan menuju surga juga telah memerintahkan untuk shalat.
Para ulama, ahli ilmu,
serta penuntut ilmu, mereka sibuk membahas hukum-hukum tentang wudhu dan
shalat, syarat sahnya, rukun-rukunnya, wajibnya, sunnahnya, keutamaannya,
pembatal-pembatalnya, hal-hal yang mengurangi pahalanya, hikmahnya, tata
caranya, bacaan-bacaan doa dan dzikirnya, jamak dan qasharnya, daaaaan lain
sebagainya...
Ada orang mengaku
beragama Islam dengan entengnya meninggalkan shalat. Seolah-olah masalah shalat
tidak ada pentingnya sama sekali.
Kamis, 18 Oktober 2018
AMALAN YANG DITERIMA
Sebagai seorang muslim, pastilah kita ingin agar amalan ibadah
kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga menjadi amalan
yang berpahala dan bisa memasukkan kita ke dalam surga. Bayangkan saja, betapa
ruginya seseorang yang telah lelah beramal, namun amalannya itu tak diterima
oleh Allah ta'ala sedikitpun. Ibarat orang yang lelah bekerja, namun
ketika tiba masa gajian, ternyata ia tak mendapat gaji sepeserpun. Oleh karena
itulah orang-orang yang takut kepada Allah khawatir kalau-kalau amalannya tidak
diterima.
Abdul ‘Aziz bin Abi
Rawwad rahimahullah berkata:
أَدْرَكْتُهُمْ
يَجْتَهِدُوْنَ فِيْ العَمَلِ الصَّالِحِ، وَإِذَا فَعَلُوْهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ
الْهَمُّ، أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا
“Aku mendapati mereka para Salafush Shalih
bersungguh-sungguh dalam amal shalih, dan apabila mereka telah selesai beramal,
muncullah dalam diri-diri mereka rasa bimbang bahwasanya apakah amalan mereka
itu diterima ataukah tidak.” (Lathaiful Ma’arif hal. 376)
Selasa, 25 September 2018
DI ANTARA KETELADANAN ULAMA
Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily
hafidzahullah, seorang guru besar untuk fatwa di Universitas Islam Madinah dan
pengajar di Masjid Nabawi membaca sebuah lembar pertanyaan. Penanya memulai
pertanyaannya dengan sapaan kepada beliau:
“Wahai Samahatusy Syaikh…”
Maka sambil tersenyum Syaikh Sulaiman
mengucapkan:
“Aku bukan Samahatu, tapi aku
Sulaiman ar-Ruhaily.”
Demikianlah di antara ketawadhuan
ulama, beliau enggan digelari dengan pujian, padahal beliau layak dipuji.
Betapa ahli ilmu selalu berusaha menjaga hatinya agar selalu ikhlas dan
menjauhi hal-hal yang bisa mengurangi keikhlasannya.
Senin, 24 September 2018
SYARAT-SYARAT KALIMAT LAA ILAAHA ILLALLAAH
Kalimat laa ilaaha
illallaah memiliki syarat-syarat yang harus dilaksanakan oleh orang yang
mengucapkannya agar bisa mendapatkan keutamaan yang begitu agung, yaitu masuk
ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka. Barangsiapa yang hilang darinya satu atau
lebih dari syarat-syarat yang ada, maka kalimat tauhid ini tidak memberi
manfaat baginya. Berdasarkan al-Qur’an dan hadits, para ulama menjelaskan bahwa
syarat-syarat kalimat laa ilaaha illallaah ada tujuh, yaitu: ilmu, yakin,
ikhlas, jujur, cinta, tunduk patuh, dan menerima. Sebagaimana hal ini
diungkapkan dalam sebuah sya`ir oleh ulama yang bernama Hafidz bin Ahmad al-Hakami
rahimahullah dalam Mandzumah Sullamul Wushul di
bait yang ke 92-95:
Kamis, 20 September 2018
KEUTAMAAN DUA KALIMAT SYAHADAT
“Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa`ashadu anna muhammadan rasuulullaah
(saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar
kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Ini adalah dua kalimat syahadat
(persaksian) yang merupakan inti ajaran Islam dan selalu kita baca dalam
shalat-shalat kita. Dua kalimat syahadat ini memiliki banyak keutamaan yang akan
didapatkan oleh orang-orang yang meyakininya, mengucapkannya, dan mengamalkan
kandungannya. Keutamaan inti
dan yang paling besar adalah bahwa dua kalimat syahadat ini menjadi penyebab mutlak
keselamatan seseorang dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Karena kalimat syahadat adalah kalimat tauhid, barangsiapa tidak bertauhid maka
ia adalah orang musyrik atau kafir dan tidak akan pernah bisa masuk ke dalam
surga selama-lamanya.
Selasa, 18 September 2018
MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT (Bagian 02 -terakhir-)
Makna Syahadat Muhammad Rasulullah
Syahadat yang kedua
adalah syahadat Muhammad Rasulullah (persaksian bahwa Nabi Muhammad adalah
utusan Allah). Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
seorang hamba dan rasul (utusan) Allah yang mendapat wahyu dari-Nya. Allah mengutus
beliau untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada seluruh umat manusia, dan
beliau adalah utusan Allah yang terakhir, beliau adalah penutup para Nabi dan
Rasul 'alaihimussalam.
Allah subhanahu wa
ta'ala berfirman:
مَا
كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ
وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu bukanlah bapak dari
seseorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para
Nabi.” (QS. al-ahzab [33]: 40)
Senin, 17 September 2018
MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT (Bagian 01)
Sebagai seorang muslim
atau sebagai orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, kita haruslah
mengetahui maknanya agar bisa mengamalkannya, sehingga kita menjadi muslim
sejati yang akan mendapatkan keutamaan dua kalimat syahadat yang telah kita
ucapkan. Yang mana dua kalimat syahadat ini adalah syarat mutlak seseorang bisa
meraih kebahagiaan di akhirat berupa surga.
Makna Syahadat Laa Ilaaha
Illallaah
Sesungguhnya kalimat laa
ilaaha illallaah adalah kalimat tauhid, maksudnya bahwa kalimat ini
mengandung makna yang agung berupa keharusan mengesakan Allah subhanahu wa
ta'ala, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dengan
memurnikan ibadah hanya kepada-Nya saja dan meninggalkan perbuatan menjadikan
tandingan bagi Allah (kesyirikan) dengan segala macam bentuknya. Kalimat laa
ilaaha illallaah mengandung makna لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain
Allah).
Kamis, 23 Agustus 2018
AKU PULANG PAK… AKU PULANG BU...
Seorang anak merasa
senang setelah mendapat gaji bulanannya yang ke sekian kalinya. Kali ini ia
bergembira karena telah merasa memiliki cukup simpanan di tabungannya, sehingga
ada sedikit dari gajinya yang bisa ia sisihkan untuk ia berikan kepada kedua
orang tuanya yang selama ini telah membesarkannya.
Ia pun pulang dari
perantauannya setelah tiba masa libur kerja. Hanya beberapa hari saja, tidak
lama. Beberapa hari yang bisa ia sempatkan dari sekian lama berpisah dengan
kedua orang tuanya. Kali ini ia baru sempat untuk berkunjung menemui orang
tuanya yang telah lama ia tinggalkan.
Sesampainya di rumah
orang tuanya, si anak menyalami bapak dan ibunya yang telah beranjak tua. Ia
pun berbahagia sekali bisa kembali melihat wajah kedua orang tuanya yang telah
merawatnya sejak bayi.
Selasa, 14 Agustus 2018
KETIKA KITA MENDAPAT NASEHAT
Terkadang, seseorang
membaca atau mendapatkan nasehat, kemudian ia merasa nasehat itu bermanfaat dan
menyentuh hatinya. Maka ia pun ingin agar orang lain mendapatkan nasehat yang
telah ia dapatkan. Ia pun menyebarkannya, sehingga ia berharap agar nasehat itu
juga bermanfaat untuk saudara saudarinya sesama kaum muslimin.
Bukan Berarti Karena Merasa Lebih
Baik
Oleh karena itu,
ketika ada saudara kita yang membagikan sebuah pesan nasehat, tidak mesti
karena dia itu merasa lebih baik dari yang lainnya. Tapi justru dia ingin agar
kita juga mendapatkan manfaat sebagaimana ia telah mendapat manfaat dari yang ia
bagikan itu. Justru dia adalah orang yang peduli dengan kebaikan kita, ia sedang
mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian (dengan keimanan
yang sempurna), sehingga ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana
ia mencintai (kebaikan) untuk dirinya.” (HR. Bukhari 13 dan Muslim 45)
Langganan:
Postingan (Atom)


























